Pages

Banner 468 x 60px

 

Sabtu, Mei 19, 2018

Pengembangan Kurikulum

0 comments

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Kurikulum sebagai wadah yang melingkupi seperangkat konsep tentang praktik pendidikan. Seperangkat konsep tersebut dibuat sebagai acuan dari pelaksanaan praktik pendidikan. Kurikulum dijadikan alat untuk menerjemahkan tujuan pendidikan sekaligus tujuan pengembangan manusia suatu bangsa ke dalam konsep yang sistematis. Dengan harapan agar pendidikan bisa dilaksanakan lebih terarah sehingga bisa lebih efektif dan efisien. Tidak bisa dipungkiri bahwa kurikulum mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam lembaga pendidikan, yaitu sebagai salah satu penentu keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu kurikulum merupakan gambaran orientasi suatu bangsa dalam mencapai tujuannya. Dalam pelaksanaannya di Indonesia kurikulum sering mengalami perubahan dengan alasan untuk penyesuaian dengan perubahan dan tuntunan masa kini.  Perubahan kurikulum  mengarah pada perbaikan sistem pendidikan dan perubahan tersebut dilakukan dengan didasari pada permasalahan pelaksanaan kurikulum sebelumnya yang dianggap kurang maksimal baik secara materi maupun sistem pembelajarannya sehingga perlu adanya revitalisasi kurikulum.
Salah satu bentuk perubahan kurikulum adalah terbentuknya kurikulum terintegrasi (terpadu) untuk sekolah dasar dan menenngah. Kurikulum terintegrasi (integrated curriculum) lebih memandang bahwa dalam suatu pokok bahasan harus  integrated  atau terpadu secara menyeluruh. Keterpaduan ini dapat dicapai melalui pemusatan pelajaran pada satu masalah tertentu dengan alternatif pemecahan melalui berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran yang diperlukan sehingga  batas-batas antara mata pelajaran dapat ditiadakan. Pengembangan kurikulum  terintegrasi memberikan kesempatan pada peserta didik untuk belajar secara kelompok maupun secara individu, lebih memberdayakan masyarakat sebagai sumber belajar, memungkinkan pembelajaran bersifat individu terpenuhi, serta dapat melibatkan peserta didik dalam mengembangkan program pembelajaran.

Pelaksanaan perubahan ini dirasakan oleh semua intitusi pendidikan termasuk juga di sekolah dengan  program islam terpadu (IT). Di sekolah islam terpadu baik SDIT dan SMPIT pelaksanaan kurikulum ini juga dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kurikulum agama tesendiri. Sehingga dapat dikatakan bahwa program sekolah islam terpadu memang memadukan seluruh kurikulum yang ada seperti kurikulum nasional yang dibuat kementerian pendidikan, kurikulum daerah yang berisi mata pelajaran muatan lokal dan kurikulum keagamaan yang dibuat  Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia. Dengan demikian mata pelajaran yang  diajarkan di sekolah islam terpadu lebih banyak dari sekolah umum. Oleh sebab itu para alokasi waktu belajar peserta didik juga membutuhkan jam belajar yang lama. Menurut Fauzi (2016) pada umumya sekolah dimulai pada pukul 07.00 dan berakhir pada 16.30. Maka dengan demikian sekolah islam terpadu telah terlebih dahulu menerapkan istilah Full Day School. Dan bahkan untuk tingkat sekolah lanjutan seperti SMPIT dan SMAIT  sudah menerapkan sistem berasarama atau yang dikenal dengan istilah boarding school.
Program yang dibuat di sekolah islam terpadu menjadi tantangan tersendiri bagi siswa, guru dan orang tua dalam menjalankan pendidikan di sekolah ini. Namun kehadiran sekolah islam terpadu juga sangat membantu para orang tua yang memiliki kesibukan. Mereka kurang  memiliki waktu untuk keluarga apalagi untuk memberikan pendidikan agama anak mereka. Oleh karena itu sekolah islam terpadu hadir bagi para orang tua yang berniat memberi pendidikan agama bagi anaknya ditengah kesibukan mereka. Selain itu tantangan masa kini yang menuntut pribadi muslim tidak hanya cerdasa secara IPTEK tetapi juga IMTAK yang bagus.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apa itu kurikulum ?
2.      Bagaimana penerapan kurikulum di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) ?
3.      Apa kelebihan dan kekurangan full day school di  Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) ?





C.       Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini dilakukan  untuk mengetahui :
1.      Apa itu k Apa itu kurikulum
2.      Bagaimana penerapan kurikulum di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)
3.      Apa kelebihan dan kekurangan  full day school di  Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)
D.      Manfaat penelitian
Kegunaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagi penulis makalah ini adalah sebagai tugas akhir dalam mata kuliah pengembangan kurikulum.
2.      Memberikan informasi mengenai penerapan berbagai jenis kurikulum di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT).
3.      Mengetahui kelebihan dan kekurangan  full day school di  Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT).













BAB II
PEMBAHASAN
A.           Kurikulum
1.    Pengertian Kurikulum
(Sukirman & Nugraha, 2014) menyatakan secara etimologis, kurikulum berasal dari kata dalam Bahasa Latin curerer yaitu pelari, dan curere yang artinya tempat berlari. Menurut istilah kurikulum adalah suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari  sehingga sampai pada garis  finish  yang ditetapkan. Kurikulum adalah  salah satu komponen penting dalam pendidikan yang  memiliki posisi strategis karena secara umum kurikulum merupakan deskripsi dari visi, misi, dan tujuan pendidikan sebuah bangsa (Bahri:2015). Sedangkan dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu  (Bab I Pasal 1). Sedangkan menurut (Nuriyanto, 2014) menjlaskan istilah “Kurikulum” memiliki arti yang sama dengan “rencana penbelajaran”, karena pada hakikatnya kurikulum sama artinya dengan rencana pelajaran. Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan Islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan Islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Kurikulum memuat garis-garis besar program kegiatan yang harus dilakukan dalam setiap penyelenggaraan pendidikan, antara lain tujuan pendidikan sebagai sasaran yang harus diupayakan untuk dicapai atau direalisasikan, pokok-pokok materi, bentuk kegiatan, dan kegiatan evaluasi (Sukirman & Nugraha, 2014). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
a.       Klasifikasi Kurikulum
(Sukirman & Nugraha, 2014) Secara garis besar dari beberapa pengertian kurikulum, dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis.  Pertama, kurikulum sebagai program, rencana atau harapan, dan  kedua, kurikulum sebagai pengalaman belajar, hasil, atau kegiatan (Subject Matter) nyata yang dilaksanakan di sekolah. Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa ada dua unsur pokok yang menjadi tekanan dari pengertian kurikulum tersebut, yaitu: 
1.        Isi kurikulum, adalah mata pelajaran  (yang diberikan  pihak sekolah dan harus ditempuh oleh setiap siswa.
2.        Tujuan utama pendidikan atau kurikulum, agar siswa menguasai setiap mata pelajaran yang diberikan dan akhirnya siswa tersebut berhak untuk mendapatkan sertifikat atau ijazah sebagai bukti telah menyelesaikan program pendidikan  (a racecourse of subject matters to be mastered: Robert S. Zais, 1976). 
b.      Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 merupakan bentuk perubahan dan perbaikan kurikulum yang telah ada sebelumnya seperti kurikulum berbasis kompetensi (KBK) di tahun 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).  Menurut (Buhungo, 2015) menyatakan arah pengembangan kurikulum 2013 antara lain (1) karakteristik penguatan, (2) menggunakan pendekatan saintifik melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar, (3) menggunakan ilmu pengetahuan sebagai penggerak pembelajaran untuk semua mata pelajaran, (4) menuntun siswa untuk mencari tahu, bukan diberi tahu (discovery learning), (5) menekankan kemampuan berbahasa sebagai alat komunikasi, pembawa pengetahuan dan berfikir logis, sistematis, dan kreatif, (6) mengukur tingkat berfikir siswa mulai dari rendah sampai tinggi, (7) menekankan pada pertanyaan yang membutuhkan pemikiran mendalam (bukan sekedar hafalan), (8) mengukur proses kerja siswa, bukan hanya hasil kerja siswa, dan (9) menggunakan portofolio pembelajaran siswa. lebih lanjut ia menyatakan Kurikulum 2013 sarat akan pengimplementasian paradigma pembelajaran positivistik di mana (1) siswa  adalah subyek dalam belajar, (2) siswa diminta untuk selalu bernalar dalam belajar dengan tuntutan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking) pada level 4, 5, dan 6, yakni mulai dari  analysis,  evaluation, dan  creating, dan (3) pembelajaran yang dikembangkan guru adalah pembelajaran yang bermakna. Untuk memenuhi tiga tuntutan di atas, ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh guru, mulai bagaimana guru merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasi pembe-lajaran, menggunakan berbagai pendekatan yang muaranya bagaimana siswa belajar, bukan bagaimana guru mengajar. 
Mindset Kurikulum 2013 adalah menyiapkan generasi emas Indonesia yang memiliki karakter kebangsaan yang kuat, memiliki daya saing yang sejajar dengan negara-negara maju lainnya (Abong, 2015). Pada awal penerapan kurikulum ini terdapat pro kontra. Pihak yang menyetujui pelaksanaan kurikulum ini beralasan indonesia memang sudah seharusmya terus mengikuti tuntutan perubahan seiring perkembangan pengetahuan dan teknologi. Sementara di pihak lain perubahan yang cepat tidak disertai dengan kesiapan semua pihak yang telibat untuk melakukan perubahan tersebut. Tidak semua guru bisa dan paham lengsung dengan cepat tentang tata cara pelaksanaan kurikulum 2013. Di samping itu kondisi setiap sekolah umumnya berbeda-beda terutama sarana dan prasarana yang tersedia.
Penelitian yang dilakukan oleh (Michie, 2017) memperlihatkan penerapan kurikulum baru untuk sekolah Indonesia tampak menghasilkan perubahan pada masyarakat Indonesia begitu juga pengetahuan peserta didik. Ia melakukan penelitian dengan membandingkan kurikulum 2013 yang dilaksanakan di Indonesia dengan kurikulum yang di terapkan di Autralia pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP) dalam bidang studi IPA. Dari hasil penelitian dinyatakan bahwa adanya kesamaan antara kurikulum yang dilaksanakan di Indonesia dan kurikulum di Australia.
c.       Kurikulum Terintegrasi
Pembahasan model kuruikulum terpadu (terintegrasi) ini juga telah dibicarakan pada bagian pendahuluan. Model ini disebut  integrated curriculum. Menurut (Sukirman & Nugraha, 2014) menyatakan dari segi bahasa, integrasi berasal dari kata  integer, yang berarti unit. Lebih lanjut ia memuat pendapatan Nasution yang menyatakan model integrasi kurikulum mengandung unsur perpaduan, koordinasi, harmoni, kebulatan, dan keseluruhan. Oleh karena itu model kurikulum terintegrasi membuat tidak adanya batas antara berbagai mata pelajaran yang ada dan penyajian  bahan pelajaran dalam bentuk keseluruhan. Melalui model ini diharapkan dapat menghasilkan kemampuan anak yang juga terintegrasi antara kemampuan akademik dan non-akademik.  Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Fauzi, 2016) penerapan pembelajaran terintegrasi di SDIT dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1.    Akademik
Inti dari pelaksanaan akademik pembelajaran terpadu terletak pada proses mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke peserta didik secara umum.
2.    Non-akademik
Dalam menerapkan pembelajaran terpadu sebagian kegiatan yang terkait dengan agama dan sosial . Selain itu, mendidik siswa dianggap bukan hanya tanggung jawab guru tetapi lebih dari itu adalah keyakinan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dari penjelasan di atas, itu bisa disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran terpadu berakar pada semangat dan nilai kebersamaan, hormat, serta mengambil dan memberi. Sinergi unik ini secara otomatis dibuat tidak hanya antara guru dan siswa tetapi juga di antara mereka dan Tuhan.
d.      Kurikulum muatan lokal (Mulok)
Kurikulum ini sudah terlebih dahulu diperkenalkan pada kurikulum 1994. Menurut (Abong, 2015) kurikulum muatan lokal (Mulok) ini merupakan jam atau dapat disebut “area abu-abu” (Gray Area) yang dapat direbutkan oleh siapapun untuk diberi makna sesuai dengan kepentingan dan keperluannya. Mulok cukup banyak berkembang di sekolah atau madrasah, sehingga semua diharapkan dapat menutup kekurangan materi pelajaran lain yang belum diatur dalam kurikulum nasional. Secara konseptual, ide Mulok itu bagus, karena dimaksudkan untuk mengakomodasi potensi-potensi lokal yang tidak mungkin terwadahi dalam kurikulum nasional. Tetapi pada tingkat implementasinya, mata pelajaran Mulok itu tersentral pada tingkat Provinsi, artinya jenis mata pelajaran Mulok dalam satu Provinsi itu sama. Pada umumnya jenis mata pelajaran Mulok yang diberikan adalah Bahasa Daerah, Kesenian, Olahraga dan atau keterampilan. Hal ini juga tidak lepas dari konstelasi kekuasaan birokrasi dalam menjalankan kurikulum.
B.            Penerapan kurikulum di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)
Seperti yang telah dituliskan dalam bagian pendahuluan bahwa di sekolah islam terpadu (IT) dari tingkat SD, SMP dan SMA menggunakan kurikulum yang telah dibuat oleh pemerintah berupa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 (KTSP 2006) atau kurikulum 2013 yang berlaku secara nasional, kurikulum agama yang juga sudah distandarkan oleh pihak-pihak yang berkomptensi berisi mata pelajaran agama serta kurikulum daerah atau muatan lokal untuk pengembangan dan pelestarian budaya daerah setempat. Maka dengan demikian mata pelajaran yang diajarkan di setiap tingkatan sekolah lebih banyak dari sekolah umum. Oleh karena itu alokasi waktu belajar juga lebih lama dibanding dengan sekolah umum. Maka proses pembelajaran di SDIT dimulai dari pagi hingga sore atau yang dikenal dengan sebutan Full Day School (FDS). Penerapan model Full Day School (FDS) diharapkan mampu menyatukan antara intelektual dan spiritual dengan mengintegrasikan kurikulum atau mata pelajaran agama, umum serta muatan lokal. Melalui model ini peserta didik diharapkan bisa mengintegrasikan suatu pengalaman melalui refleksi diri. Ini menjadi tantang tersendiri bagi siswa terutama tingkat sekolah dasar.
Istilah  full day school (FSD) awalnya dilakukan oleh negara-negara di Amerika dan Eropa. Hal ini dilakukan mereka mempunyai waktu belajar yang terbatas disebabkan sebagian sekolah meliburkan peserta didiknya pada musim panas dan musim dingin. Karena itulah siswa di negara-negara ini disarankan untuk mendapat pelajaran tambahan. Sebagai solusinya, sekolah kemudian menerapkan hari penuh sistem sekolah (Fauzi, 2016). Namun dalam pelaksanaanya tentu berbeda dengan di Indonesia yang tidak memiliki keterbatasan waktu dalam proses pembelajaran. Karena negara indonesia tidak mengalami dua musim ekstrim seperti di Eropa dan Amerika. Sistem  full day school (FSD) memberikan sangat banyak manfaat bagi siswa dan para orang tua. Menurut Suryani dan Romi (Fauzi, 2016) sistem full school day school (FDS) dapat menyediakan lingkungan yang aman bagi anak-anak yang orang tuanya sibuk dengan pekerjaan. Maka dengan demikian orang tua lebih merasa nyaman ketika menyekolahkan anaknya di SDIT. Di samping anak-anak tidak ada kesempatan menghabiskan waktunya untuk untuk kegiatan yang tidak bermanfaat orang tua juga merasa terbatu dengan penanaman karakter islami untuk membentuk kepribadian anak. Dan para orang tua akan menjemput di sore hari. Bandingkan dengan  sekolah umum yang tidak membuat FDS maka proses pembelajaran lebih cepat selesai dan akhirnya anak menghabiskan waktunya untuk kegiatan yang tidak bisa dikontrol oleh orang tua.
Dalam pelaksanaan full school day school (FDS) guru dituntut untuk bisa menciptakan suasana belajar yang menarik dan membuat peserta didik merasa nyaman sepanjang hari. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah membuat media pembelajaran yang menarik. Hal ini disebabkan karena media sebagai sarana komunikasi dan interaksi pembelajaran (Midun dalam Asyhar : 2011).  Selain itu dalam proses pembelajaran di SDIT di pagi hari para siswa belajar seperti biasa sampai siang dan dari siang setelah shalat zhuhur melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler.
Selain itu menurut (Fauzi, 2016) guru bebas menambah materi melebihi kurikulum yang biasa, dan bahkan mengatur waktu agar lebih kondusif.  Jadi lama waktu belajar bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan karena sudah termasuk kegiatan ekstrakurikuler. Dalam dunia pendidikan menggunakan  metode pembiasaan terbukti ampuh dalam membentuk kepribadian anak. Misalnya, jika anak dibiasakan untuk makan dengan tangan kanan, berdoa sebelum makan, tidak melakukan kecurangan dalam melakukann ujian disekolah, gotong royong serta saling menghargai dimasyarakat, semua ini akan mengkristal dalam dirinya dan manjadi kata hati (conscience) untuk selamanya.
Fitian Amali dalam (Fauzi, 2016) menyatakan kurikulum terbaik dan paling relevan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam adalah dengan menjadikan al Qur'an sebagai landasan kurikulum untuk mengembangkan pendidikan Islam. Selanjutnya dalam artikel ini dijelaskan tujuan pendidikan yang terintegrasi menghasilkan peserta didik yang : (Miswar dalam Fauzi dan Hasballah : 2016 )
a.         Mengenali keberadaan Tuhan
Keterkaitan ciptaan dalam semua hal yang berkaitan dengan seseorang pikiran, perasaaan, dan perbuatab (tahud, persatuan dan sistem).



b.        Memiliki Prinsip
Menganut prinsip-prinsip penilaian moral dan komitmen untuk refleksi diri, pengarahan diri sendiri, dan tindakan moral, dengan penekanan pada integritas, kejujuran, kasih sayang dan keadilan.
c.         Berpengetahuan
Memiliki pemahaman mendalam tentang keteladanan dan memahami pemecahan masalah umat manusia diulang dan dampak dari peristiwa dan penemuan penting dalam konteks pembangunan manusia.
d.        Keseimbang
Memahami ruang lingkup dan pentingnya keseimbangan dan kesejahteraan dalam kehidupan pribadi seseorang dan kehidupan sosial dan secara aktif bekerja untuk membangun keseimbangan dan kesejahteraan dalam dua kehidupan yaitu dunia dan akhirat.
e.         Kerja sama
Memiliki pemahaman tentang peran masyarakat yang baik, kerjasama, keadilan, dan persahabatan dalam membangun dan memelihara hubungan, meningkatkan hungungan yang lebih bermakna di antara individu dan kelompok.
f.         Komitmen
Komitmen terhadap gaya hidup yang konsisten dengan prinsip dan praktik praktik Islam terutama dalam interaksi mereka dengan orang lain dalam kehipan sehari-hari.
g.        Perhatian
Memiliki rasa kepedulian yang besar, melayani dan mengelola kegiatan sosial, dan berkomitmen untuk memanfaatkan kehidupan dunia ke akhirat.
Dari poin-poin di atas terlihat jelas bahwa pengintegrasian ditujukan untuk menghasilkan peserta didik yang mempunyai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam menjalani hidup. Nuansa pendidikan yang dibuat dengan penyampaian materi yang bersifat membangun pilar-pilar manusian yang dibungkus dengan semangat Illahiyah. (Nuriyanto, 2014) menjelaskan integrasi nilai-nilai keislaman dan penanaman karakter nabi di setiap mata pelajaran yang diajarkan, dalam tataran ideal maupun praktiknya. Misalnya dalam penyusunan perangkat pembelajaran yang mengitegrasikan nilai nilai keislaman dan karakter nabi tersebut sejalan dengan visi dan misi yang diemban oleh masing-masing sekolah. Misalnya dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pelajaran IPA  yang bersifat tematik untuk kelas satu, dalam tema “rumahku” berkaitan dengan pelajaran IPS (mengenal ingkungan rumah) dimana karakter yang diharapkan adalah disiplin, tekun, tanggung jawab, ketelitian, kerja sama, toleransi, percaya diri, dan keberanian.
Konsep pembelajaran yang terintegrasi dilaksanakan bukan hanya untuk peserta didik tetapi juga untuk para pendidik. Salah satu bentuknya adalah dengan melakukan supervisi. Kegiatan supervisi pendidikan sangat diperlukan oleh guru, karena guru merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam pendidikan di sekolah. Dan yang mengetahui segala sesuatu dengan guru di sebuah sekolah tentunya pihak pimpinan sekolah atau kepala sekolah (Nuriyanto, 2014). Sesuai dengan tanggung jawab kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya ia harus melaksanakan supervisi terhadap guru-guru di sekolah yang di bawah pimpinannya.  Karena salah satu bentuk supervisi menurut Arikunto adalah yang harus dilakukan oleh kepala sekolah adalah supervisi akademik. Supervisi akademik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Lebih lanjut Nurliyanto menyatakan kegiatan supervisi bisa dilakukan dengan kegiatan formal maupun informal. Bersifat harian yang tidak formal biasanya berkomunikasi secara langsung misalnya menegur guru atau pihak administrasi sekolah yang sekiranya tidak sesuai dengan yang seharusnya. Supervisi formal dilakukan dengan mengadakan kunjungan ke kelas ketika guru sedang melaksanakan kegiatan belajar mengajar, dengan waktu yang tidak direncanakan terlebih dahulu.
C.            Apa kelebihan dan kekurangan  full day school (FDS)
Dalam pelaksanaan program full day school (FDS) di sebuah sekolah termasuk SDIT tentunya ada hal postif dan negatif yang ditemui. Menurut penelitian yang dilakukan (Wizma, 2017) kelebihan dan kekurangan program full day school (FDS) adalah sebagai berikut :
1.    Meningkatkan kegiatan keagamaan siswa
2.    Meningkatkan interaksi antar siswa
3.    Meningkatkan kedisiplinan siswa
4.    Meningkatkan Nilai Siswa
5.    Lebih Efektif dalam Belajar di Sekolah
6.    Kurangnya Waktu dengan Orang tua dan teman di Rumah
7.    Menurunnya  Tingkat Kemandirian Siswa
8.    Kejenuhan dan Kelelahan Siswa di Sekolah
Pada penelitian yang dilakukan oleh Sari ()menjelaskan kegiatan full day school (FDS) mampu mengimplementasikan pendidikan karakter dalam diri siswa. selain itu menurut (Soapatty, 2014) sistem  Full Day School  berpengaruh signifikan terhadap prestasi akademik siswa SMP Jati Agung Sidoarjo. Perstasi siswa akan bagus jika sekolah menyesuaikan sarana dan prasarana yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa, kurikulum, kreatifitas guru maupun keadaan siswa.  pada sisi lain bagi  masyarakat yang pas-pasan atau bahkan tidak cukup  mampu menyekolahkan anaknya akan semakin diberatkan dengan kewajiban menyekolahkan anaknya seharian. Yang tentunya menambah beban uang saku serta tentunya biaya sekolah  lainnya yang sebelumnya tidak dikeluarkan ketika sistem sekolahnya masih setengah hari(Arioka, 2018). Dengan demikian dapat dipahami bahwa kegiatan full day school memilki kekurangan dan kelebihan seperti kebijakan lannya. Oleh karena itu orang tua dan peserta didik untuk mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan dalam hal menyekolahkan anak di sekolah dasar islam terpadu (SDIT). Karena di samping dampak positif juga aspek negatifnya. Dan dari pihak akan juga berusaha memeini aspek negatifnya.  









BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Seringnya terjadi perubahan kurikulum di indonesia menuntut semua pihak baik kepala sekolah, guru, siswa  dan stakeholder  lainnya harus menyesuaikan dengan perubahan yang ada. Adanya perubahan ini pemerintah berupaya untuk menyesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan masa kini. Walaupun  dalam pelaksanaanya banyak pihak pro dan kontra terhadap perubahan kurikulum dengan dengan berbagai alasan. Sekolah sebagai lembaga yang paling merasakan efek perubahan ini tentu harus mengikuti arahan dalam kurikulum terbaru.  
Salah satu bentuk sekolah ada di indonesia adalah sekolah islam terpadu (IT). Pada pembahasan ini berntu sekolah yang diteliti adalah sekolah sekolah dasar islam terpadu (SDIT). Kurikulum yang digunakan di sekolah dasar islam terpadu (SDIT) mengikuti kurikulum yang tetapkan oleh pemerintah secara nasional yaitu kurikulum 2013, kurikulum agama dan kurikulum daerah (muatan lokal). Proses pembelajaran dilakukan tidak hanya untuk membentuk pesert didik yang cerdas secara akademis tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual. Sekolah berharap mampu mengintegrasikan seluruh kurikulum ini dalam membentuk peserta didik mampu bersaing. Karena banyaknya jenis kurikulum dipakai tentu tidak sedikit pula mata pelajaran yang diajarkan sehingga membuat alokasi waktu untuk belajar juga semakin lama. Pada umumnya siswa datang ke sekolah pagi hari dan pulangnya selesai sore hari atau lebih dikenal dengan program full day school . Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi siswa yang ingin bersekolah di SDIT.
Perlu juga diketahui dalam pelaksanaan program full day school ini banyak .pihak yang pro dan kontra dengan berbagai alasan. Sehingga pelaksanaannya pun belum bisa secara serentak diterapkan. Dalam pelaksanaan kurikulum terintegrasi dengan program full day school tentu memiliki  kelebihan dan kekurangan.  Ada banyak kelebihan yang bisa didapatkan dan diusahakan untuk tetap dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Adapun kekurangannya diharapkan untuk bisa diperbaiki.


B.     Saran
Berdasarkan simpulan hasil makalah di atas  penulis memberikan saran sebagai berikut: 
1.         Kepada penyelenggara pendidikan sekolah dengan sistem Full Day School, diharapkan juga membuat program khusus karena  kemungkinan besar kebosanan serta jumlah dan bobot pelajaran yang diterima anak menyebabkan anak didik bisa mengalami stress.
2.         Kepada guru yang mengajar supaya pembelajaran tidak terkesan monoton maka disarankan guru menguasi media pembelajaran dan game-game yang menarik.
3.         Kepada orang tua yang ingin anaknya mengikuti pendidikan sekolah dengan sistem Full Day School, diharapkan agar benar-benar berkeinginan untuk mendampingi serta memberi semangat tidak henti-hentinya kepada anaknya agar prestasi akademik anak-anak  juga diimbangi dengan kemampuan sosial yang lebih baik.
4.         Kepada peneliti selanjutnya yang hendak mengadakan penelitian serupa bisa meneliti di beberapa sekolah yang berbeda.











DAFTAR PUSTAKA
Abong, R. (2015). Konstelasi Kurikulum Pendidikan, 9, 37–47.
Arioka, N. W. W. (2018). Jurnal Studi Kultural Pro Kontra Wacana Full Day School, III(1), 1–5.
Asyhar, Rayandra. (2011). Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran.Jakarta: GP Press
Buhungo, R. A. (2015). Implementasi Dan Pengembangan Kurikulum 2013 Pada Madrasah Aliyah, (IAIN Sultan Amai Gorontalo), 105–113.
Fauzi,  Anis and H. (2016). Integrasi Ilmu Di Sekolah Dasar ( Studi Kasus Kurikulum Terpadu di SDIT Lukman Al-Hakim Surakarta ), 212–224.
Michie, M. (2017). Comparing the Indonesian Kurikulum 2013 with the Australian Curriculum : Focusing on science for junior secondary schools Perbandingan Kurikulum 2013 Indonesia dengan Australian Curriculum : Dengan fokus pada Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) pada tingkat Sek, 16(2), 83–96.
Nuriyanto, L. K. (2014). Model Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di SDIT Al-Anwar Dan Firdaus Mojokerto Jawa Timur, 12 (April), 15–26.
Soapatty, L. (2014). Pengaruh Sistem Sekolah Sehari Penuh ( Full Day School ) Terhadap Prestasi Akademik Siswa Smp Jati Agung Sidoarjo (Fakultas Ilmu Sosial, Universitas negeri Surabaya), 719–733.
Sukirman, D., & Nugraha, A. (2014). Hakikat Kurikulum.
Wizma, M. and S. R. (2017). Dampak Pelaksanaan Sistem Full Day School di SMA Negeri 1 Pasaman, (STKIP PGRI Sumatera Barat), 1–9.


0 comments:

Posting Komentar