PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kurikulum sebagai wadah
yang melingkupi seperangkat konsep tentang praktik pendidikan. Seperangkat
konsep tersebut dibuat sebagai acuan dari pelaksanaan praktik pendidikan.
Kurikulum dijadikan alat untuk menerjemahkan tujuan pendidikan sekaligus tujuan
pengembangan manusia suatu bangsa ke dalam konsep yang sistematis. Dengan
harapan agar pendidikan bisa dilaksanakan lebih terarah sehingga bisa lebih efektif
dan efisien. Tidak bisa
dipungkiri bahwa kurikulum mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam
lembaga pendidikan, yaitu sebagai salah satu penentu keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu kurikulum merupakan gambaran orientasi
suatu bangsa dalam mencapai tujuannya. Dalam pelaksanaannya di Indonesia kurikulum
sering mengalami perubahan dengan alasan untuk penyesuaian dengan perubahan dan
tuntunan masa kini. Perubahan kurikulum mengarah pada perbaikan sistem pendidikan dan
perubahan tersebut dilakukan dengan didasari pada permasalahan pelaksanaan kurikulum
sebelumnya yang dianggap kurang maksimal baik secara materi maupun sistem
pembelajarannya sehingga perlu adanya revitalisasi kurikulum.
Salah satu bentuk perubahan kurikulum
adalah terbentuknya kurikulum terintegrasi (terpadu) untuk sekolah dasar dan
menenngah. Kurikulum terintegrasi (integrated curriculum) lebih memandang bahwa
dalam suatu pokok bahasan harus
integrated atau terpadu secara
menyeluruh. Keterpaduan ini dapat dicapai melalui pemusatan pelajaran pada satu
masalah tertentu dengan alternatif pemecahan melalui berbagai disiplin ilmu
atau mata pelajaran yang diperlukan sehingga
batas-batas antara mata pelajaran dapat ditiadakan. Pengembangan
kurikulum terintegrasi memberikan
kesempatan pada peserta didik untuk belajar secara kelompok maupun secara
individu, lebih memberdayakan masyarakat sebagai sumber belajar, memungkinkan
pembelajaran bersifat individu terpenuhi, serta dapat melibatkan peserta didik
dalam mengembangkan program pembelajaran.
Pelaksanaan
perubahan ini dirasakan oleh semua intitusi pendidikan termasuk juga di sekolah
dengan program islam terpadu (IT). Di sekolah
islam terpadu baik SDIT dan SMPIT pelaksanaan kurikulum ini juga dilakukan
bersamaan dengan pelaksanaan kurikulum agama tesendiri. Sehingga dapat
dikatakan bahwa program sekolah islam terpadu memang memadukan seluruh
kurikulum yang ada seperti kurikulum nasional yang dibuat kementerian pendidikan,
kurikulum daerah yang berisi mata pelajaran muatan lokal dan kurikulum keagamaan
yang dibuat Jaringan Sekolah Islam
Terpadu (JSIT) Indonesia. Dengan demikian mata pelajaran yang diajarkan di sekolah islam terpadu lebih
banyak dari sekolah umum. Oleh sebab itu para alokasi waktu belajar peserta
didik juga membutuhkan jam belajar yang lama. Menurut Fauzi (2016) pada umumya sekolah dimulai pada
pukul 07.00 dan berakhir pada 16.30. Maka dengan demikian sekolah islam terpadu
telah terlebih dahulu menerapkan istilah Full
Day School. Dan bahkan untuk tingkat sekolah lanjutan seperti SMPIT dan
SMAIT sudah menerapkan sistem berasarama
atau yang dikenal dengan istilah boarding
school.
Program yang
dibuat di sekolah islam terpadu menjadi tantangan tersendiri bagi siswa, guru
dan orang tua dalam menjalankan pendidikan di sekolah ini. Namun kehadiran
sekolah islam terpadu juga sangat membantu para orang tua yang memiliki
kesibukan. Mereka kurang memiliki waktu
untuk keluarga apalagi untuk memberikan pendidikan agama anak mereka. Oleh
karena itu sekolah islam terpadu hadir bagi para orang tua yang berniat memberi
pendidikan agama bagi anaknya ditengah kesibukan mereka. Selain itu tantangan
masa kini yang menuntut pribadi muslim tidak hanya cerdasa secara IPTEK tetapi
juga IMTAK yang bagus.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
itu kurikulum ?
2. Bagaimana
penerapan kurikulum di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) ?
3. Apa
kelebihan dan kekurangan full day school
di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) ?
C. Tujuan
Penulisan
Penulisan makalah ini dilakukan untuk mengetahui :
1. Apa itu k Apa itu kurikulum
2. Bagaimana
penerapan kurikulum di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)
3. Apa
kelebihan dan kekurangan full day school di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)
D.
Manfaat
penelitian
Kegunaan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1.
Bagi penulis makalah ini adalah sebagai
tugas akhir dalam mata kuliah pengembangan kurikulum.
2.
Memberikan
informasi mengenai penerapan berbagai jenis kurikulum di Sekolah
Dasar Islam Terpadu (SDIT).
3.
Mengetahui kelebihan dan kekurangan full
day school di Sekolah Dasar Islam
Terpadu (SDIT).
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kurikulum
1.
Pengertian
Kurikulum
(Sukirman
& Nugraha, 2014) menyatakan secara etimologis, kurikulum
berasal dari kata dalam Bahasa Latin curerer yaitu pelari, dan curere yang
artinya tempat berlari. Menurut istilah kurikulum adalah suatu jarak yang harus
ditempuh oleh pelari sehingga sampai
pada garis finish yang ditetapkan. Kurikulum adalah salah satu komponen penting dalam pendidikan
yang memiliki posisi strategis karena
secara umum kurikulum merupakan deskripsi dari visi, misi, dan tujuan
pendidikan sebuah bangsa (Bahri:2015). Sedangkan dalam Undang-undang No. 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa kurikulum adalah
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu
(Bab I Pasal 1). Sedangkan menurut (Nuriyanto,
2014) menjlaskan istilah “Kurikulum” memiliki arti
yang sama dengan “rencana penbelajaran”, karena pada hakikatnya kurikulum sama
artinya dengan rencana pelajaran. Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan
Islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik
untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan Islam,
melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Kurikulum memuat garis-garis besar program
kegiatan yang harus dilakukan dalam setiap penyelenggaraan pendidikan, antara
lain tujuan pendidikan sebagai sasaran yang harus diupayakan untuk dicapai atau
direalisasikan, pokok-pokok materi, bentuk kegiatan, dan kegiatan evaluasi (Sukirman
& Nugraha, 2014). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan
bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,
dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
a.
Klasifikasi
Kurikulum
(Sukirman
& Nugraha, 2014) Secara garis besar dari beberapa pengertian
kurikulum, dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis. Pertama, kurikulum sebagai program, rencana
atau harapan, dan kedua, kurikulum
sebagai pengalaman belajar, hasil, atau kegiatan (Subject Matter) nyata yang dilaksanakan di sekolah. Lebih lanjut ia
juga menjelaskan bahwa ada dua unsur pokok yang menjadi tekanan dari pengertian
kurikulum tersebut, yaitu:
1.
Isi
kurikulum, adalah mata pelajaran (yang
diberikan pihak sekolah dan harus ditempuh
oleh setiap siswa.
2.
Tujuan
utama pendidikan atau kurikulum, agar siswa menguasai setiap mata pelajaran
yang diberikan dan akhirnya siswa tersebut berhak untuk mendapatkan sertifikat
atau ijazah sebagai bukti telah menyelesaikan program pendidikan (a racecourse of subject matters to be
mastered: Robert S. Zais, 1976).
b.
Kurikulum
2013
Kurikulum 2013 merupakan bentuk perubahan dan
perbaikan kurikulum yang telah ada sebelumnya seperti kurikulum berbasis
kompetensi (KBK) di tahun 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). Menurut (Buhungo,
2015) menyatakan arah pengembangan kurikulum 2013 antara
lain (1) karakteristik penguatan, (2) menggunakan pendekatan saintifik melalui
mengamati, menanya, mencoba, menalar, (3) menggunakan ilmu pengetahuan sebagai
penggerak pembelajaran untuk semua mata pelajaran, (4) menuntun siswa untuk
mencari tahu, bukan diberi tahu (discovery learning), (5) menekankan kemampuan
berbahasa sebagai alat komunikasi, pembawa pengetahuan dan berfikir logis,
sistematis, dan kreatif, (6) mengukur tingkat berfikir siswa mulai dari rendah
sampai tinggi, (7) menekankan pada pertanyaan yang membutuhkan pemikiran
mendalam (bukan sekedar hafalan), (8) mengukur proses kerja siswa, bukan hanya
hasil kerja siswa, dan (9) menggunakan portofolio pembelajaran siswa. lebih
lanjut ia menyatakan Kurikulum 2013 sarat akan pengimplementasian paradigma
pembelajaran positivistik di mana (1) siswa
adalah subyek dalam belajar, (2) siswa diminta untuk selalu bernalar
dalam belajar dengan tuntutan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking)
pada level 4, 5, dan 6, yakni mulai dari
analysis, evaluation, dan creating, dan (3) pembelajaran yang
dikembangkan guru adalah pembelajaran yang bermakna. Untuk memenuhi tiga tuntutan
di atas, ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh guru, mulai bagaimana guru
merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasi
pembe-lajaran, menggunakan berbagai pendekatan yang muaranya bagaimana siswa
belajar, bukan bagaimana guru mengajar.
Mindset Kurikulum 2013 adalah menyiapkan
generasi emas Indonesia yang memiliki karakter kebangsaan yang kuat, memiliki
daya saing yang sejajar dengan negara-negara maju lainnya (Abong, 2015). Pada awal penerapan kurikulum ini terdapat
pro kontra. Pihak yang menyetujui pelaksanaan kurikulum ini beralasan indonesia
memang sudah seharusmya terus mengikuti tuntutan perubahan seiring perkembangan
pengetahuan dan teknologi. Sementara di pihak lain perubahan yang cepat tidak
disertai dengan kesiapan semua pihak yang telibat untuk melakukan perubahan
tersebut. Tidak semua guru bisa dan paham lengsung dengan cepat tentang tata
cara pelaksanaan kurikulum 2013. Di samping itu kondisi setiap sekolah umumnya
berbeda-beda terutama sarana dan prasarana yang tersedia.
Penelitian yang dilakukan oleh (Michie, 2017) memperlihatkan penerapan kurikulum baru
untuk sekolah Indonesia tampak menghasilkan perubahan pada masyarakat Indonesia
begitu juga pengetahuan peserta didik. Ia melakukan penelitian dengan
membandingkan kurikulum 2013 yang dilaksanakan di Indonesia dengan kurikulum
yang di terapkan di Autralia pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP) dalam
bidang studi IPA. Dari hasil penelitian dinyatakan bahwa adanya kesamaan antara
kurikulum yang dilaksanakan di Indonesia dan kurikulum di Australia.
c.
Kurikulum
Terintegrasi
Pembahasan model kuruikulum terpadu
(terintegrasi) ini juga telah dibicarakan pada bagian pendahuluan. Model ini disebut integrated curriculum. Menurut (Sukirman
& Nugraha, 2014) menyatakan dari segi bahasa, integrasi
berasal dari kata integer, yang berarti
unit. Lebih lanjut ia memuat pendapatan Nasution yang menyatakan model
integrasi kurikulum mengandung unsur perpaduan, koordinasi, harmoni, kebulatan,
dan keseluruhan. Oleh karena itu model kurikulum terintegrasi membuat tidak
adanya batas antara berbagai mata pelajaran yang ada dan penyajian bahan pelajaran dalam bentuk keseluruhan.
Melalui model ini diharapkan dapat menghasilkan kemampuan anak yang juga terintegrasi
antara kemampuan akademik dan non-akademik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Fauzi, 2016) penerapan pembelajaran
terintegrasi di SDIT dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1.
Akademik
Inti dari pelaksanaan
akademik pembelajaran terpadu terletak pada proses mengintegrasikan nilai-nilai
Islam ke peserta didik secara umum.
2.
Non-akademik
Dalam menerapkan
pembelajaran terpadu sebagian kegiatan yang terkait dengan agama dan sosial
. Selain itu, mendidik siswa dianggap bukan hanya tanggung jawab guru
tetapi lebih dari itu adalah keyakinan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa. Dari penjelasan di atas, itu bisa disimpulkan bahwa penerapan
pembelajaran terpadu berakar pada semangat dan nilai kebersamaan, hormat, serta
mengambil dan memberi. Sinergi unik ini secara otomatis dibuat tidak hanya
antara guru dan siswa tetapi juga di antara mereka dan Tuhan.
d.
Kurikulum
muatan lokal (Mulok)
Kurikulum ini sudah terlebih dahulu
diperkenalkan pada kurikulum 1994. Menurut (Abong, 2015) kurikulum muatan lokal (Mulok) ini merupakan
jam atau dapat disebut “area abu-abu” (Gray Area) yang dapat direbutkan oleh
siapapun untuk diberi makna sesuai dengan kepentingan dan keperluannya. Mulok
cukup banyak berkembang di sekolah atau madrasah, sehingga semua diharapkan
dapat menutup kekurangan materi pelajaran lain yang belum diatur dalam
kurikulum nasional. Secara konseptual, ide Mulok itu bagus, karena dimaksudkan
untuk mengakomodasi potensi-potensi lokal yang tidak mungkin terwadahi dalam
kurikulum nasional. Tetapi pada tingkat implementasinya, mata pelajaran Mulok
itu tersentral pada tingkat Provinsi, artinya jenis mata pelajaran Mulok dalam
satu Provinsi itu sama. Pada umumnya jenis mata pelajaran Mulok yang diberikan
adalah Bahasa Daerah, Kesenian, Olahraga dan atau keterampilan. Hal ini juga
tidak lepas dari konstelasi kekuasaan birokrasi dalam menjalankan kurikulum.
B.
Penerapan kurikulum di Sekolah Dasar
Islam Terpadu (SDIT)
Seperti yang telah dituliskan dalam bagian pendahuluan
bahwa di sekolah islam terpadu (IT) dari tingkat SD, SMP dan SMA menggunakan
kurikulum yang telah dibuat oleh pemerintah berupa Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan 2006 (KTSP 2006) atau kurikulum 2013 yang berlaku secara nasional,
kurikulum agama yang juga sudah distandarkan oleh pihak-pihak yang berkomptensi
berisi mata pelajaran agama serta kurikulum daerah atau muatan lokal untuk
pengembangan dan pelestarian budaya daerah setempat. Maka dengan demikian mata
pelajaran yang diajarkan di setiap tingkatan sekolah lebih banyak dari sekolah
umum. Oleh karena itu alokasi waktu belajar juga lebih lama dibanding dengan sekolah
umum. Maka proses pembelajaran di SDIT dimulai dari pagi hingga sore atau yang
dikenal dengan sebutan Full Day School
(FDS). Penerapan model Full Day School
(FDS) diharapkan mampu menyatukan antara intelektual dan spiritual dengan
mengintegrasikan kurikulum atau mata pelajaran agama, umum serta muatan lokal.
Melalui model ini peserta didik diharapkan bisa mengintegrasikan suatu
pengalaman melalui refleksi diri. Ini menjadi tantang tersendiri bagi siswa
terutama tingkat sekolah dasar.
Istilah full day school (FSD) awalnya dilakukan
oleh negara-negara di Amerika dan Eropa. Hal ini dilakukan mereka mempunyai
waktu belajar yang terbatas disebabkan sebagian sekolah meliburkan peserta
didiknya pada musim panas dan musim dingin. Karena itulah siswa di
negara-negara ini disarankan untuk mendapat pelajaran tambahan. Sebagai
solusinya, sekolah kemudian menerapkan hari penuh sistem sekolah (Fauzi, 2016). Namun dalam pelaksanaanya tentu berbeda dengan di Indonesia yang tidak
memiliki keterbatasan waktu dalam proses pembelajaran. Karena negara indonesia
tidak mengalami dua musim ekstrim seperti di Eropa dan Amerika. Sistem full
day school (FSD) memberikan sangat banyak manfaat bagi siswa dan para orang
tua. Menurut Suryani dan Romi (Fauzi, 2016) sistem full school day school
(FDS) dapat menyediakan lingkungan yang aman bagi anak-anak yang orang tuanya sibuk
dengan pekerjaan. Maka dengan demikian
orang tua lebih merasa nyaman ketika menyekolahkan anaknya di SDIT. Di samping
anak-anak tidak ada kesempatan menghabiskan waktunya untuk untuk kegiatan yang
tidak bermanfaat orang tua juga merasa terbatu dengan penanaman karakter islami
untuk membentuk kepribadian anak. Dan para orang tua akan menjemput di sore
hari. Bandingkan dengan sekolah umum
yang tidak membuat FDS maka proses pembelajaran lebih cepat selesai dan
akhirnya anak menghabiskan waktunya untuk kegiatan yang tidak bisa dikontrol
oleh orang tua.
Dalam pelaksanaan full school day school (FDS) guru dituntut untuk bisa
menciptakan suasana belajar yang menarik dan membuat peserta didik merasa
nyaman sepanjang hari. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah
membuat media pembelajaran yang menarik. Hal ini disebabkan karena media
sebagai sarana komunikasi dan interaksi pembelajaran (Midun dalam Asyhar :
2011). Selain itu dalam proses
pembelajaran di SDIT di pagi hari para siswa belajar seperti biasa sampai siang
dan dari siang setelah shalat zhuhur melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler.
Selain itu menurut (Fauzi, 2016) guru bebas menambah
materi melebihi kurikulum yang biasa, dan bahkan mengatur waktu agar lebih
kondusif. Jadi lama waktu belajar
bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan karena sudah termasuk kegiatan
ekstrakurikuler. Dalam dunia pendidikan menggunakan metode pembiasaan terbukti ampuh dalam
membentuk kepribadian anak. Misalnya, jika anak dibiasakan untuk makan dengan
tangan kanan, berdoa sebelum makan, tidak melakukan kecurangan dalam melakukann
ujian disekolah, gotong royong serta saling menghargai dimasyarakat, semua ini
akan mengkristal dalam dirinya dan manjadi kata hati (conscience) untuk
selamanya.
Fitian Amali dalam (Fauzi, 2016) menyatakan kurikulum terbaik dan paling relevan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam
adalah dengan menjadikan al Qur'an sebagai landasan kurikulum untuk
mengembangkan pendidikan Islam. Selanjutnya dalam artikel ini dijelaskan tujuan
pendidikan yang terintegrasi menghasilkan peserta didik yang : (Miswar dalam Fauzi dan Hasballah : 2016 )
a.
Mengenali keberadaan Tuhan
Keterkaitan ciptaan dalam semua hal yang
berkaitan dengan seseorang pikiran, perasaaan, dan perbuatab (tahud, persatuan
dan sistem).
b.
Memiliki Prinsip
Menganut prinsip-prinsip penilaian moral
dan komitmen untuk refleksi diri, pengarahan diri sendiri, dan tindakan moral,
dengan penekanan pada integritas, kejujuran, kasih sayang dan keadilan.
c.
Berpengetahuan
Memiliki pemahaman mendalam tentang keteladanan
dan memahami pemecahan masalah umat manusia diulang dan dampak dari peristiwa
dan penemuan penting dalam konteks pembangunan manusia.
d.
Keseimbang
Memahami ruang lingkup dan pentingnya
keseimbangan dan kesejahteraan dalam kehidupan pribadi seseorang dan kehidupan
sosial dan secara aktif bekerja untuk membangun keseimbangan dan kesejahteraan
dalam dua kehidupan yaitu dunia dan akhirat.
e.
Kerja sama
Memiliki pemahaman tentang peran
masyarakat yang baik, kerjasama, keadilan, dan persahabatan dalam membangun dan
memelihara hubungan, meningkatkan hungungan yang lebih bermakna di antara
individu dan kelompok.
f.
Komitmen
Komitmen terhadap gaya hidup yang
konsisten dengan prinsip dan praktik praktik Islam terutama dalam interaksi mereka
dengan orang lain dalam kehipan sehari-hari.
g.
Perhatian
Memiliki rasa kepedulian yang besar,
melayani dan mengelola kegiatan sosial, dan berkomitmen untuk memanfaatkan
kehidupan dunia ke akhirat.
Dari poin-poin di
atas terlihat jelas bahwa pengintegrasian ditujukan untuk menghasilkan peserta
didik yang mempunyai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam menjalani hidup.
Nuansa pendidikan yang dibuat dengan penyampaian materi yang bersifat membangun
pilar-pilar manusian yang dibungkus dengan semangat Illahiyah. (Nuriyanto,
2014) menjelaskan integrasi nilai-nilai keislaman
dan penanaman karakter nabi di setiap mata pelajaran yang diajarkan, dalam
tataran ideal maupun praktiknya. Misalnya dalam penyusunan perangkat
pembelajaran yang mengitegrasikan nilai nilai keislaman dan karakter nabi
tersebut sejalan dengan visi dan misi yang diemban oleh masing-masing sekolah.
Misalnya dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pelajaran IPA yang bersifat tematik untuk kelas satu, dalam
tema “rumahku” berkaitan dengan pelajaran IPS (mengenal ingkungan rumah) dimana
karakter yang diharapkan adalah disiplin, tekun, tanggung jawab, ketelitian,
kerja sama, toleransi, percaya diri, dan keberanian.
Konsep
pembelajaran yang terintegrasi dilaksanakan bukan hanya untuk peserta didik
tetapi juga untuk para pendidik. Salah satu bentuknya adalah dengan melakukan
supervisi. Kegiatan supervisi pendidikan sangat diperlukan oleh guru, karena
guru merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam pendidikan di sekolah. Dan
yang mengetahui segala sesuatu dengan guru di sebuah sekolah tentunya pihak
pimpinan sekolah atau kepala sekolah (Nuriyanto, 2014).
Sesuai dengan tanggung jawab kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya
ia harus melaksanakan supervisi terhadap guru-guru di sekolah yang di bawah pimpinannya.
Karena salah satu bentuk supervisi
menurut Arikunto adalah yang harus dilakukan oleh kepala sekolah adalah
supervisi akademik. Supervisi akademik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran. Lebih lanjut Nurliyanto menyatakan kegiatan supervisi bisa
dilakukan dengan kegiatan formal maupun informal. Bersifat harian yang tidak
formal biasanya berkomunikasi secara langsung misalnya menegur guru atau pihak
administrasi sekolah yang sekiranya tidak sesuai dengan yang seharusnya.
Supervisi formal dilakukan dengan mengadakan kunjungan ke kelas ketika guru sedang
melaksanakan kegiatan belajar mengajar, dengan waktu yang tidak direncanakan
terlebih dahulu.
C.
Apa kelebihan dan kekurangan full
day school (FDS)
Dalam pelaksanaan program full
day school (FDS) di sebuah sekolah termasuk SDIT tentunya ada
hal postif dan negatif yang ditemui. Menurut penelitian yang dilakukan (Wizma, 2017) kelebihan dan
kekurangan program full day school
(FDS) adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan
kegiatan keagamaan siswa
2. Meningkatkan
interaksi antar siswa
3. Meningkatkan
kedisiplinan siswa
4. Meningkatkan
Nilai Siswa
5. Lebih
Efektif dalam Belajar di Sekolah
6. Kurangnya
Waktu dengan Orang tua dan teman di Rumah
7. Menurunnya Tingkat Kemandirian Siswa
8. Kejenuhan
dan Kelelahan Siswa di Sekolah
Pada penelitian yang dilakukan oleh Sari ()menjelaskan kegiatan full day school (FDS) mampu
mengimplementasikan pendidikan karakter dalam diri siswa. selain itu menurut (Soapatty,
2014) sistem
Full Day School berpengaruh signifikan terhadap prestasi
akademik siswa SMP Jati Agung Sidoarjo. Perstasi siswa akan bagus jika sekolah
menyesuaikan sarana dan prasarana yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa,
kurikulum, kreatifitas guru maupun keadaan siswa. pada sisi lain bagi masyarakat yang pas-pasan atau bahkan tidak
cukup mampu menyekolahkan anaknya akan
semakin diberatkan dengan kewajiban menyekolahkan anaknya seharian. Yang
tentunya menambah beban uang saku serta tentunya biaya sekolah lainnya yang sebelumnya tidak dikeluarkan
ketika sistem sekolahnya masih setengah hari(Arioka, 2018). Dengan demikian dapat dipahami bahwa
kegiatan full day school memilki
kekurangan dan kelebihan seperti kebijakan lannya. Oleh karena itu orang tua
dan peserta didik untuk mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum mengambil
keputusan dalam hal menyekolahkan anak di sekolah dasar islam terpadu (SDIT).
Karena di samping dampak positif juga aspek negatifnya. Dan dari pihak akan
juga berusaha memeini aspek negatifnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Seringnya terjadi
perubahan kurikulum di indonesia menuntut semua pihak baik kepala sekolah,
guru, siswa dan stakeholder lainnya harus
menyesuaikan dengan perubahan yang ada. Adanya perubahan ini pemerintah
berupaya untuk menyesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan masa kini.
Walaupun dalam pelaksanaanya banyak
pihak pro dan kontra terhadap perubahan kurikulum dengan dengan berbagai
alasan. Sekolah sebagai lembaga yang paling merasakan efek perubahan ini tentu
harus mengikuti arahan dalam kurikulum terbaru.
Salah satu bentuk
sekolah ada di indonesia adalah sekolah islam terpadu (IT). Pada pembahasan ini
berntu sekolah yang diteliti adalah sekolah sekolah dasar islam terpadu (SDIT).
Kurikulum yang digunakan di sekolah dasar islam terpadu (SDIT) mengikuti
kurikulum yang tetapkan oleh pemerintah secara nasional yaitu kurikulum 2013,
kurikulum agama dan kurikulum daerah (muatan lokal). Proses pembelajaran
dilakukan tidak hanya untuk membentuk pesert didik yang cerdas secara akademis
tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual. Sekolah berharap mampu
mengintegrasikan seluruh kurikulum ini dalam membentuk peserta didik mampu
bersaing. Karena banyaknya jenis kurikulum dipakai tentu tidak sedikit pula
mata pelajaran yang diajarkan sehingga membuat alokasi waktu untuk belajar juga
semakin lama. Pada umumnya siswa datang ke sekolah pagi hari dan pulangnya
selesai sore hari atau lebih dikenal dengan program full day school . Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi
siswa yang ingin bersekolah di SDIT.
Perlu juga
diketahui dalam pelaksanaan program full day school ini banyak .pihak yang pro
dan kontra dengan berbagai alasan. Sehingga pelaksanaannya pun belum bisa
secara serentak diterapkan. Dalam pelaksanaan kurikulum terintegrasi dengan
program full day school tentu
memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada banyak kelebihan yang bisa didapatkan dan
diusahakan untuk tetap dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Adapun
kekurangannya diharapkan untuk bisa diperbaiki.
B. Saran
Berdasarkan simpulan hasil makalah di atas penulis memberikan saran sebagai
berikut:
1.
Kepada
penyelenggara pendidikan sekolah dengan sistem Full Day School, diharapkan juga
membuat program khusus karena
kemungkinan besar kebosanan serta jumlah dan bobot pelajaran yang
diterima anak menyebabkan anak didik bisa mengalami stress.
2.
Kepada
guru yang mengajar supaya pembelajaran tidak terkesan monoton maka disarankan
guru menguasi media pembelajaran dan game-game
yang menarik.
3.
Kepada
orang tua yang ingin anaknya mengikuti pendidikan sekolah dengan sistem Full
Day School, diharapkan agar benar-benar berkeinginan untuk mendampingi serta
memberi semangat tidak henti-hentinya kepada anaknya agar prestasi akademik
anak-anak juga diimbangi dengan
kemampuan sosial yang lebih baik.
4.
Kepada
peneliti selanjutnya yang hendak mengadakan penelitian serupa bisa meneliti di
beberapa sekolah yang berbeda.
DAFTAR
PUSTAKA
Abong, R. (2015). Konstelasi Kurikulum Pendidikan, 9,
37–47.
Arioka, N. W. W. (2018). Jurnal Studi Kultural Pro Kontra Wacana Full Day
School, III(1), 1–5.
Asyhar, Rayandra. (2011). Kreatif Mengembangkan Media
Pembelajaran.Jakarta: GP Press
Buhungo, R. A. (2015). Implementasi Dan Pengembangan Kurikulum 2013 Pada Madrasah
Aliyah, (IAIN Sultan Amai Gorontalo), 105–113.
Fauzi, Anis and H. (2016).
Integrasi Ilmu Di Sekolah Dasar ( Studi Kasus Kurikulum Terpadu di SDIT Lukman
Al-Hakim Surakarta ), 212–224.
Michie, M. (2017). Comparing the Indonesian Kurikulum 2013 with the
Australian Curriculum : Focusing on science for junior secondary schools
Perbandingan Kurikulum 2013 Indonesia dengan Australian Curriculum : Dengan
fokus pada Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) pada tingkat Sek, 16(2), 83–96.
Nuriyanto, L. K. (2014). Model Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di SDIT
Al-Anwar Dan Firdaus Mojokerto Jawa Timur, 12 (April), 15–26.
Soapatty, L. (2014). Pengaruh Sistem Sekolah Sehari Penuh ( Full Day
School ) Terhadap Prestasi Akademik Siswa Smp Jati Agung Sidoarjo (Fakultas
Ilmu Sosial, Universitas negeri Surabaya), 719–733.
Sukirman, D., & Nugraha, A. (2014). Hakikat Kurikulum.
Wizma, M. and S. R. (2017). Dampak Pelaksanaan Sistem Full Day School di
SMA Negeri 1 Pasaman, (STKIP PGRI Sumatera Barat), 1–9.

0 comments:
Posting Komentar