EVALUASI PENGUKURAN DAN
PEMBELAJARAN EKONOMI
“TES”
Disusun oleh:
Katarina Elvi Manihuruk
Meirani
Dosen Mata Kuliah:
Drs. Khairani, M.Pd
MAGISTER PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2018
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA
PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR
ISI.......................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian......................................................... 4
B. Rumusan
Masalah...................................................................... 4
C. Tujuan
Penelitian...................................................................... 4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Tes........................................................................... 6
B. Jenis-jenis
Tes........................................................................... 6
C. Tahap-tahap
penyusunan tes..................................................... 8
D. Kriteria tes
yang baik................................................................ 9
E.
Kelebihan dan Kekurangan Jenis-Jenis
Tes.............................. 11
F.
Prinsip-prinsip dasar dalam
penyusunan tes hasil belajar.......... 13
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT,
yang telah memberikan taufiq dan hidayahNya, sehingga kita masih diberikan
kenikmatan dan kelancaran dalam penulisan makalah ini..
Shalawat serta salam marilah kita panjatkan kepada
junjungan kita Nabi besar, Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya dan para
sahabatnya yang telah berhasil membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman
kecahayaan seperti saat ini.
Makalah ini
merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Evaluasi
pengukuran dan Pembelajaran ekonomi.
Di dalamnya makalah ini mengemukakan mengenai Konsep masalah tes, diantarannya
pengertian tes, persyaratan tes, dan ciri-ciri tes yang baik.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih pada dosen mata kuliah Evaluasi
pengukuran dan Pembelajaran ekonomi, yang senantiasa memberikan ilmu dan
pengetahuan, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini walaupun
makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu kitik dan saran sangat kami
harapkan demi perbaikan makalah selanjutnya.
Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi kita. Amin.
Padang,
Febrari 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang bersifat umum bagi setiap manusia
dimuka bumi ini. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan manusia dalam
kondisi apapun manusia tidak dapat menolak efek dari penerapan pendidikan.
Kegiatan mengukur, menilai, dan mengevaluasi sangatla penting dalam dunia
pendidikan. Hal ini tidak terlepas karena kegiatan tersebut merupakan suatu
siklus yang dibutukn untuk mengetaui sejuh mana pencapaian pendidikan telah
terlaksana. Contonya dalam evaluasi penilaian hasil belajar siswa, kegiatan
pengukuran dan penilaian merupakan langka awal dalam proses evaluasi
tersebut.kegiatan pengukuran yang dilakukanbiasanya dituangkan dalam berbagai
bentuk tes dan hal ini yang paling banyak digunakan.
Pada evaluasi penilaian hasil belajar teknik tes digunakan untuk mengukur
pada ranah kognitif.dengan alat pengukur berupa tes tersebut guru akan berhasil
mengetahui adanya perbedaan antara peserta didik. Ole karena itu dalamm membuat
dan mengembangkan tes guru harus menyusun dengan baik. Dengan demikian
mempertimbangkan hal itu maka guru harus mengetahui kriteri tes yang baik,
pedoman pengembangan tes, dan teknik pemberian skor.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan tes ?
2.
Apa saja
jenis-jenis tes itu?
3.
Apa
Tahap-tahap penyusunan tes?
4.
Bagaimana ciri-ciri
tes yang baik?
5.
Apa saja Kelebihan dan Kekurangan
Jenis-Jenis Tes ?
6.
Bagaimana
prinsip-prinsip dasar dalam penyusunan tes hasil belajar?
C. Tujuan Penulisan
1.
Menjelaskan
pengertian tes
2.
Mengetahui jenis-jenis
tes
3.
Mengetahui
tahap-tahap penyusunan tes
4.
Mengetaui bagaimana
ciri-ciri tes yang baik
5.
Mengetaui Kelebihan
dan Kekurangan Jenis-Jenis Tes
6.
Menerangkan
prinsip-prinsip dasar dalam penyusunan tes asil belajar
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Tes
Di
dalam bukunya yang berjudul evaluasi pendidikan, amir daien indrakusuma
mengatakan demikian “ tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan
objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan
tentang seseorang dengan cara yang bolehh dikatakan tepat dan cepat”.
Selanjutnya didalam buku teknik-teknik evaluasi, mucthar bukhori mengatakan:
“tes ilahha suatu percubaan yang diadaakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
hasil-hasil pelajaran tertentu pada seorang murid atau kelompok murid”
Tes adalah alat untuk mengukur sampel pengetahuan atau
kemampuan yang dimiliki seseorang. oleh karena itu, pemberian tes sebenarnya
terbatas dari segi waktu pelaksanannya; pengetahuan dan kemampuan yang di ukur
bersifat luas hampir tanpa batas, sedangkan gambaran pengetahuan dan kemampuan
yang diperoleh melalui tes merupakan sampel dari semua pengetahuan dan
kemampuan yang mungkin dimiliki oleh pembelajar. Ketiga, tes adalah penafsiran
angka yang diperoleh untuk menentukan cukup baik atau tidaknya sseorang
pembalajar dalam mencapai suatu tujuan.
2.2 Jenis-jenis tes
1. Dari segi bentuk pelaksanaannya
a.
Tes Tertulis ( paper and pencil
test)
Tes
tertulis dalam pelaksanaannya lebih menekankan pada penggunaan kertas dan
pencil sebagai instrumen utamanya, sehingga tes mengerjakan soal atau jawaban
ujian pada kertas ujian secara tertulis, baik dengan tulisan tangan maupun
menggunakan komputer.
b.
Tes Lisan ( oral test)
Tes lisan
dilakukan dengan pembicaraan atau wawancara tatap muka antara guru dan murid.
c.
Tes Perbuatan (performance test)
Tes
perbuatan mengacu pada proses penampilan seseorang dalam melakukan sesuatu unit
kerja. Tes perbuatan mengutamakan pelaksanaan perbuatan peserta didik.
2. Dari segi bentuk soal dan
kemungkinan jawabannya
a.
Tes Essay (uraian)
Tes Essay
adalah tes yang disusun dalam bentuk pertanyaan terstruktur dan siswa menyusun,
mengorganisasikan sendiri jawaban tiap pertanyaan itu dengan bahasa sendiri.
Tes essay ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan dalam menjelaskan
atau mengungkapkan suatu pendapat dalam bahasa sendiri.
b.
Tes Objektif
Tes
objektif adalah tes yang disusun sedemikian rupa dan telah disediakan
alternatif jawabannya. Tes ini terdiri dari berbagai macam bentuk, antara lain
: Tes Betul-Salah (TrueFalse), Tes Pilihan Ganda (Multiple Choice), Tes
Menjodohkan (Matching), dan Tes Analisa Hubungan (Relationship Analysis)
3. Dari segi fungsi tes di sekolah:
a.
Tes Formatif
Tes
Formatif, yaitu tes yang diberikan untuk memonitor kemajuan belajar selama
proses pembelajaran berlangsung. Tes ini diberikan dalam tiap satuan unit
pembelajaran. Manfaat tes formatif bagi peserta didik adalah :Untuk mengetahui
apakah peserta didik sudah menguasai materi dalam tiap unit pembelajaran,
Merupakan penguatan bagi peserta didik, Merupakan usaha perbaikan bagi siswa,
karena dengan tes formatif peserta didik mengetahui kelemahan-kelemahan yang
dimilikinya, dan Peserta didik dapat mengetahui bagian dari bahan yang mana
yang belum dikuasainya.
b.
Tes Summatif
Tes
sumatif diberikan dengan maksud untuk mengetahui penguasaan atau pencapaian
peserta didik dalam bidang tertentu. Tes sumatif dilaksanakan pada tengah atau
akhir semester.
c.
Tes Penempatan
Tes
penempatan adalah tes yang diberikan dalam rangka menentukan jurusan yang akan
dimasuki peserta didik atau kelompok mana yang paling baik ditempati atau
dimasuki peserta didik dalam belajar.
d.
Tes Diagnostik
Tes
diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mendiagosis penyebab kesulitan yang
dihadapi seseorang baik dari segi intelektual, emosi, fisik dan lain-lain yang
mengganggu kegiatan belajarnya.
2.3 Tahap- tahap
penyusunan tes
Ada enam
tahap dalam merencanakan dan menyusun tes agar diperoleh tes yang baik,yaitu:
1. Pengembangan spesifikasi tes
Spesifikasi tes adalah suatu ukuran
yang menunjukkan keseluruhan kualitas tes dan ciri-ciri yang harus dimiliki
oleh tes yang akan dikembangkan. Hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Menentukan tujuan, tujuan
pembelajaran yang baik hendaklah berorientasi kepada peserta didik, bersifat
menguraikan hasil belajar, harus jelas dan dapat dimengerti, mengandung kata
kerja yang jelas (kata kerja operasional), serta dapat diamati dan dapat di
ukur.
b. Menyusun kisi-kisi soal, penyusunan
kisi-kisi soal bertujuan untuk merumuskan setepat mungkin ruang lingkup,
tekanan dan bagian-bagian tes sehingga perumusan tersebut dapat menjadi
petunjuk yang efektif bagi penyusun tes.
c. Memilih tipe soal, dalam memilih
tipe soal perlu diperhatikan kesesuaian antara tipe soal dengan materi, tujuan
evaluasi, skoring, pengelolaan hasil evaluasi, penyelenggaraan tes, serta
ketersediaan dana dan kepraktisan.
d. Merencanakan tingkat kesukaran soal,
untuk soal objektif dapat diketahui melalui uji coba atau dapat juga
diperkirakan berdasarkan berat ringannya beban penyeleaian soal tersebut
e. Merencanakan banyak soal
f. Merencanakan jadwal penerbitan soal
2. Penulisan soal
3.
Penelaahan soal, yaitu menguji
validitas soal yang bertujuan untuk mencermati apakah butir-butir soal yang
disusun sudah tepat untuk mengukur tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan,
ditinjau dari segi isi/materi, kriteria dan psikologis.
4. Pengujian butir-butir soal secara
empiris, kegiatan ini sangat penting jika soal yang dibuat akan dibakukan.
5.
Penganalisisan hasil uji coba.
6.
Pengadministrasian soal
2.4 Ciri-ciri tes yang baik
Sebuah tes yang dapat dikatakan baik
sebagai alat pengukur arus memenuhi persyaratan tes yaitu memiliki:
a)
Validitas
Sebuah tes
dapat disebut valid apabila tes itu dapat tepat mengukur apa yang hendak
diukur. Istilah “valid”, sangat sukar dicari penggantinya. Walaupun istilah
“tepat” belum dapat mencakup semua arti yang tersirat dalam kata “valid”, dan
kata “tepat” kadang-kadang digunakan dalam konteks yang lai, akan tetapi
tambahan kata “tepat” dalam menerangkan kata “valid” dapat memperjelas apa yang
dimaksud.
Contoh:
Untuk mengukur besarnya partisipasi siswa dalam proses
belajar-mengajar, bukan diukur melalui nilai yang diperoleh dalam waktu ulangan, tetapi diliat melalui:
·
Kehadiran
·
Terpusatnya
perhatian pada pelajaran
·
Ketepatan
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam arti relevan pada
permasalahannya
Nilai yang diperole pada waktu ulangan, bukan
menggambarkan partisipasi tetapi menggambarkan prestasi belajar.
b)
Relibilitas
Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia di
ambil dari kata reliability dalam bahasa inggris, berasal dari kata asal
reliable yang artinya dapat dipercaya.
Seseorang dikatakan dapat dipercaya jika orang
tersebut selalu berbicara ajeg, tidak berubah-ubah pembicaraannya dari waktu ke
waktu. Demikian pula halnya dalam sebuah
tes. Tes tersebut dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yng tetap
apabila diteskan berkali-kali. Sebuah tes dikatakan reliable apaila hasil-hasil
tes tersebut menunjukan ketetapan. Dengn kata lain jika kepada siswa diberikan
tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setip siswa akan tetap berada
dalam urutan ranking yang sama dalam kelompoknya.
Jika di ubungkan dengan validitas maka:
Validitas adala ketepatan
Reliabilitas adalah ketetapan.
c)
Objektivitas
Dalam pengertian sehari-hari telah dengan cepat
diketahui bahwa objektif berarti tidak adanya unsur pribadi yang mempengarui.
Lawan dari objektif adalah subjektif, artinya terdapat unsur pribadi yang masuk
memengarui sebua tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan
tes itu tidak ada factor yang memengaruhi. Hal ini terutama terjadi pada system
skoringnya.
Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka
objektivitas meneknkan ketetapan
(consistency) pada system skoring, sedangkan reliabilitas menekankan
ketetapan dalam hasil tes.
Ada dua factor yang mempengaruhhi subjektivitas
dari sesuatu tes yaitu bentuk tes dan penilai.
1.
Bentuk tes
Tes yang berbentuk uraian akan memberikan banyak kemungkinan kepada si
penilai ntuk memberikan penilaian menurut caranya sendiri. Dengn demikian maka
hasil dari seorang siswa yang mengajarkan soal-soal dari sebua tes, akann dapat
berbeda apabila dinilai ole dua orang penilai.
2.
Penilai
Subjektivitas dari penilai
akan dapat masuk secara agak leluasa terutama dalam tes bentuk uraian.
Faktor-faktor yang memengarui
subjektivitas antara lain: kesan penilai terhadap siswa, tulisan, bahasa, waktu
mengadakan penilaian, kelelahha, dan sebagainya. Untuk menghindari atau
mengurangi masuknya unsur subjektivitas dalam pekerjaan penilaian, maka
penilaian atau evaluasi ini harus dilaksanakan dengan mengingat pedoman.
d)
Praktikabilitas
(practicability)
Sebua tes dikatakan memiliki praktikabilitas
yang tinggi apabila tes tersebutbersifat praktis, mudah
pengabdiministrasiannya.
Tes yang praktis adala tes
yang:
1.
Mudah
dilaksanakan
2.
Muda
pemeriksaannya
3.
Dilengkapi
dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan/ diawali oleh
orang lain.
e)
Ekonomis
Yang
dimaksud ekonomis disini iala bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan
ongkos/biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.
2.5 Kelebihan dan Kekurangan Jenis-Jenis Tes
1. Tes lisan
a. Kelebihannya antara lain:
1)
Lebih dapat menilai kepribadian dan
isi pengetahuan seseorang karena dilakukan secara face to face
2)
Jika si penjawab belum jelas,
pengetes dapat mengubah pertanyaan sehingga dimengerti oleh si penjawab
3)
Dari sikap dan cara menjawabnya,
pengetes dapat mengetahui apa yang tersirat disamping yang tersurat
4)
Pengetes dapat mengorek isi
pengetahuan seseorang sampai mendetail dan dapat mengetahui bidang mana dari
pengetahuan itu yang lebih dimiliki atau disenanginya
5)
Untuk mengetahui kecakapan tertentu
6)
Pengetes dapat langsung mengetahui
hasilnya
b.
Kekurangannya antara lain:
1)
Jika hubungan antara pengetes dan
yang dites kurang baik, dapat mengganggu objektivitas hasil tes
2)
Sifat penggugup pada yang dites
dapat menggangu kelancaran jawaban yang diberikan
3)
Pribadi dan sikap pengetes dan
hubungannya dengan yang dites memungkinkan hasil yang kurang objektif.
2. Tes tulisan
a. Kelebihannya antara lain:
1)
Dapat sekaligus menilai kelompok
dalam waktu yang singkat
2)
Bagi si penjawab ada kebebasan
memilih dan cara menjawab
3)
Karena pertanyaannya sama, scope dan
isi pengetahuan yang dinilai tiap-tiap orang pun sama pula
b. Keburukannya antara lain:
1) Mudah menimbulkan kecurangan dan
kepalsuan jawaban
2) Mudah menimbulkan spekulasi bagi
orang yang akan dites
3. Tes Essay
a. Kebaikannya antara lain:
1)
Bagi guru, menyusun tes tersebut
sangat mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama
2)
Si penjawab mempunyai kebebasan
dalam menjawab dan mengeluarkan isi hati atau buah pikirannya
3)
Melatih mngeluarkan buah pikiran
dalam bentuk kalimat atau bahasa yang teratur
4)
Lebih ekonomis, hemat karne tidak
memerlukan kertas yang terlalu banyak untuk membuat soal tes
b. Kelemahanya antara lain:
1)
Tidak atau kurang dapat digunakan
untuk mengetes pelajaran yang scope-nya luas atau banyak sehingga kurang dapat
menilai isi pengetahuan siswa yang sebenarnya
2)
Kemungkinan jawaban yang heterogen
sifatnya menyulitkan pengetes dalam menskornya
3)
Baik buruknya tulisan dan panjang
pendeknya jawaban yang tidak sama mudah menimbulkan evaluasi dan penskoran yang
kurang objektif
4. Tes objektif
a. Kebaikannya antara lain:
1)
Dapat digunakan untuk menilai bahan
pelajaran yang banyak atau skope yang luas. Pelajaran yang diberikan selama
satu tahun atau dua tahun dapat dites sekaligus
2)
Bagi yang dites, menjawabnya dapat
bebas dan terpimpin karena adanya jawaban yang tersedia
3)
Dapat dinilai secara objektif karena
kunci jawabannya telah tersedia
4)
Memaksa siswa untuk belajar
baik-baik karena sukar untuk berbuat spekulasi terhadap bagian mana dari
seluruh pelajaran yang harus dipelajari
b. Kekurangannya antara lain:
1)
Kurang memberi kesempatan untuk
menyatakan isi hati atau kecakapan yang sesungguhnya karena anak tidak membuat
kalimat
2)
Memungkinkan anak atau si penawab
berbuat coba-coba (kira-kira), untung-untungan dalam menjawabnya
3)
Menyusun tes ini tidak mudah,
memrlukan ketelitian dan waktu yang agak lama
4)
Kurang ekonomis karena memakan biaya
dan kertas yang banyak
Untuk menilai hasil-hasil tes objektif biasanya dilakukan
penskoran secara statistik.
2.6 prinsip-prinsip dasar dalam penyusunan tes
hasil belajar
a. Menurut (Gronlund,1977)
1) Tes prestasi harus mengukur hasil
belajar yang telah dibatasi secara jelas sesuai dengan tujuan instruksional.
2) Tes prestasi harus mengukur suatu
sampel yang representatif dari hasil belajar dan dari materi yang dicakup oleh
program instruksional atau pengajaran.
3) Tes prestasi harus berisi item-item
dengan tipe yang paling cocok guna mengukur hasil belajar yg diinginkan.
4) Tes prestasi harus dirancang
sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaan hasilnya.
5) Reliabilitas tes prestasi harus
diusahakan setinggi mungkin dan hasil ukurnya harus ditafsirkan dengan
hati-hati.
6) Tes prestasi harus dapat digunakan
untuk meningkatkan belajar para anak didik.
Selain itu menurut Anas Sudjiono
dalam bukunya Pengantar evaluasi pendidikan mengemukakan ada beberapa prinsip dasar yang perlu
dicermati di dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut dapat mengukur
tujuan instruksional khusus untuk mata pelajaran yang telah diajarkan, atau
mengukur kemampuan dan keterampilan peserta didik yang diharapkan, setelah
mereka menyelesaikan suatu unit pengajaran tertentu.
Ø Pertama, tes hasil belajar harus dapat
mengukur secara jelas hasil belajar (learning outcomes) yang telah detetapkan
sesuai dengan tujuan instruksional. Kejelasan mengenai pengukuran hasil belajar
soal tes hasil belajar.
Ø Kedua, butir-butir soal tes hasil belajar
harus merupakan sampel yang representatif dari populasi bahan pelajaran yang
telah diajarkan, sehingga dapat dianggap mewakili seluruh performance yang
telah diperoleh selama peserta didik mengikuti suatu unit pengajaran.
Ø Ketiga, bentuk soal yang dikeluarkan dalam
tes hasil belajar harus dibuat bervariasi, sehingga betul-betul cocok untuk
mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai dengan tujuan tes itu sendiri.
Untuk mengukur hasil belajar yang berupa keterampilan mislanya, tidak tepat
kalau hanya menggunakan soal-soal yang berbentuk essay tes yang jawabannya
hanya menguraikan dan bukan melakukan atau mempraktekan sesuatu. Demikian pula
untuk mengukur kemampuan menganalisis
suatu prinsip , tidak cocok jika digunakan butir-butir soal yang berbentuk
objective tes yang pada dasarnya hanya mengungkapkan daya ingat peserta didik.
Ø Keempat, tes hasil belajar harus didesain
sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pernyataan
tersebut mengandung makna, bahwa desain tes hasil belajar harus disusun secara
relevan dengan kegunaan yang dimiliki oleh masing-masing jenis tes. Desain dari
placement test – (yaitu tes yang digunakan untuk penentuan penempatan siswa
dalam suatu jenjang atau jenis program pendidikan tertentu) sudah barang tentu akan berbeda dengan desain
dari formative tes (yaitu tes yang digunakan untuk mencari umpan balik guna memperbaiki
proses pembelajaran, baik bagi guru maupun bagi siswa) dan summative test
(yaitu tes yang digunakan untuk mengukur atau menilai samapi di mana pencapaian
siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan dan selanjutnya untuk
menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan siswa yang bersangkutan). Demikian
pula desain ari diagnostic tes (yaitu tes yang digunakan dengan tujuan untuk
mencari sebab-sebab kesulitan belajar siswa, seperti latar belakang psikologis,
fisik dan lingkungan sosial ekonomi siswa) tentu akan berbeda pula dengan tiga
jens tes yang telah disebutkan di atas.
Ø Kelima, tes hasil belajar harus memiliki
reliabilitas yang dapat diandalkan. Artinya setelah tes hasil belajar itu
dilaksanakan berkali-kali terhadap subyek yang sama, hasilnya selalu sama atau
relatif sama. Dengan demikian tes hasil belajaar itu hendaknya memiliki
keajegan hasil pengukuran yang tidak diragukan lagi.
Ø Keenam, tes hasil belajar di samping harus
dapat dijadikan alat pengukur keberhasilan belajar siswa, juga harus dapat
dijadikan alat untuk mencari informasi yang berguna untuk memperbaiki cara
belajar siswa dan cara mengajar guru itu sendiri.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Simpulan
Ada tiga hal
yang penting dalam pengertian tes, pertama adalah sebutan pengukuaran. Pemberian
tes (testing adalah bagian dari kegiatan pengukuran (measurement). Kedua tes
adalah alat untuk mengukur sampel pengetahuan atau kemampuan yang dimiliki
seseorang. Ketiga, tes adalah penafsiran angka yang diperoleh untuk menentukan
cukup baik atau tidaknya sseorang pembalajar dalam mencapai suatu tujuan.
Sebuah tes
harus sesuai dengan apa yang akan diukur sehigga dapat meberikan informasi yang
benar. Dengan kata lain sebuah tes adalah alat yang dipakai untuk mengetahui
ketercapaian keadaan yang diinginkan oleh pengetes, setelah terlebih dahulu
meberikan perlakuan yang benar terhadap objek yang di tes. Tentuya sebuah tes
harus dibuat berdasaran ketentuan-keetentuan atau prinsip tertentu yang sesuai
dengen perlakuan yag diberikan kepada objek, sehingga informasi yang
diahasilkan dapat dipercaya.
Sebuah tes
dapat dikatakan baik apabila memenuhi empat faktor yakni: Valid, Reriabel,
praktis, dan objektif.
DAFTAR
PUSTAKA
Amir Daien Indrakusuma. 1993. Evaluasi Pendidikan.
Malang: Penerbit IKIP Malang.
Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan Ed. Revisi
, Cet.7. Jakarta: Bumi Aksara
Arikunto,
Suharsimi. 2012. Dasar – Dasar Evaluasi
Pendidikan Ed. Revisi , Cet.1 ED.2. Jakarta: Bumi Aksara
Dewa Ketut
Sukardi. 1997. Analisis Tes Psikologis. Jakarta: Rinneka Cipta.
Purwanto, Ngalim. 1984. Prinsip – Prinsip dan Teknik Evaluasi
Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sudijono, Anas. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada
